Senin, 09 Juli 2012

Makam Keramat Nyai Putri Rambut Cisadane


Makam Keramat Nyai Putri Rambut Cisadane
Menguak berbagai cerita dan luasnya kerajaan yang terletak di Jawa barat semuanya berawal dari Kerajaan Padjajaran yang hingga kini menjadi misteri dan banyak peneliti yang ingin mengetahui dimana keberadaan Monumen Kerajaan Padjajaran yang sebenarnya. Dengan didorong rasa cinta terhadap perkembangan sejarah dan para pendiri bangsa, penulis terpanggil  untuk mengangkat tentangs keberadaan Makam sejarah yang kini keberadaannya mulai banyak dikunjungi oleh peziarah yang  datang dari berbagai pelosok daerah yaitu Makam Keramat Nyai Putri Rambut Cisadane yang letaknya tidak jauh dari Makam Mbah Lurah Kalurahan (Aki Buyut) yang posisinya harus turun bukit yang berdampingan dengan aliran sungai cisadane yang menghubungkan wilayah Bogor dan Tangerang – Banten. Konon nama letak dari Makam Nyai Putri adalah Santri Manjang, nama Santri bila ditelaah dan dikaji bisa menggambarkan bahwa ajaran Islam telah sampai kepada perbatasan tersebut yang kemungkinan ajaran Islam tersebut syiarkan oleh Mbah lurah dan Ibu Lurah beserta putrinya sampai keperbatasan wilayah pesisir Cisadane yang menghubungkan ke wilayah Serpong – Tangerang Banten, yang berhubungan dengan adanya Makam Keramat Tajug Serpong yaitu Makam Syeh Tubagus Atief Muhammad Maulana bin Sultan Agung Tirtayasa dimana beliau adalah panglima perang Banten.
Selain nama hutan Santri Manjang di perbatasan itu ditemukan juga nama seperti daerah Cisawang, Cipulo, Cimangir, Cikoleang, Cidulang, Cikedokan, nama-nama tersebut sudah tidak asing  lagi terdengar di telinga kita,  dari nama-nama tersebut menggambarkan bahwa memang sudah adanya kehidupan orang tionghoa yang sampai ke wilayah tersebut dan sudah adanya hidup yang rukun antar wilayah kalurahan dan sekitarnya, dan menggambarkan sudah adanya toleransi umat beragama dimana hidup rukun, berdampingan dan saling hormat menghormati antar pemeluk agama satu dengan yang lainnya, walaupun memang tidak sumber yang dapat dijadikan pedoman dimana penulis hanya berdasarkan kepada situs sejarah dan terinspirasi dari Makam Mbah Lurah, Ibu Lurah Kalurahan dan Makam Keramat Nyai Putri Rambut Cisadane yang ada di hutan Santri Manjang.
Menurut berbagai sumber dari para pendahulu sesepuh Kampung Kalurahan (Alm. Mualim Abah Suhaca) beliau pernah mengatakan bahwa Makam Nyai Putri Rambut Cisadane merupakan putri dari Mbah Lurah dan Ibu Lurah Kalurahan yang merupakan kasuhunan karuhun dari orang-orang sunda wiwitan yang masih kental dengan paham adanya susuguhan yang mengenal adanya tradisi sebelum ziarah dengan menyuguhkan kopi pahit, kopi manis, sirih, pinang, menyan dan nasi tumpeng yang kini masih tetap tradisi tersebut sering dilakukan oleh para peziarah sebelum mengadakan pembacaan tahlil, tahmid dan dzikir.
Jika dikaji dari nilai filosofis bahwa susuguhan tersebut merupakan wujud syukur kepada Allah SWT, yang menggambarkan adanya rasa kebersamaan bahwa semua yang diciptakan oleh Allah SWT, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa pada hakikatnya semua berserah diri kepada Allah SWT, dan selalu bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, agar kelak kita semua sebagai umatnya mendapatkan syafaatnya dari beliau. Dan janganlah sesekali kita keluar dari jalur ajaran Islam yang meminta selain kepada Allah SWT (Musrik), semua itu adalah merupakan pembelajaran bagi kita semua bahwa tradisi-tradisi tersebut merupakan warisan dari nenek moyang kita bahwa kita harus menghargai dan menghormati nilai budaya bangsa, hakikatnya adalah semua kita berserah diri kepada Allah SWT.
Dengan rasa sadar dan wujud syukur kepada Allah SWT, bahwa kita semua pasti akan kembali kepada pangkuannya dan semua yang bernyawa pasti akan mengalami kematian dan itu sudah pasti tidak ada yang bisa menundanya dan merubahnya. Begitupun dengan kita ziarah  mengunjungi makam-makam keramat dan makam para aulia ataupun makam walisongo itu merupakan mahabbah, rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW, berkat jasa-jasa beliau ajarannya sampai kepada kita dan janganlah sesekali kita berpaling dari Allah SWT.
(Oleh : Ust. H. Nursono S.Sos bin H. Ranawi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar